'

Untuk Seseorang yang Pernah Tercuri Hatinya di Kampung Inggris

Hai, apa kabar dirimu sekarang?

Entah apa yang Tuhan telah gariskan pada pertemuan kita saat itu. Kemunculan dirimu adalah kejutan luar biasa yang tak pernah aku prediksikan sebelumnya. Sama seperti lainnya, tentulah tujuan awalku datang ke Kampung Inggris adalah untuk menimba ilmu sekaligus mencari pengalaman baru. Dengan tanpa permisi, kamu hadir begitu saja dan merubah segalanya. Kenanganku tak hanya seputar materi bahasa Inggris maupun kebersamaan dengan teman-teman, tetapi ada dirimu yang terselip di sana. Mengukir cerita-cerita baru yang berhasil terpahat dalam pikiran dan hatiku hingga sekarang.

Sadarkah kamu? Hatiku sempat teraduk-aduk waktu itu. Padahal tinggal beberapa hari lagi aku meninggalkan Kampung Inggris. Ego dan sikap kita yang sama-sama dingin merupakan satu penghalang yang mampu membuat kita seolah berbatas dan perlahan menjauh. Maafkan aku jika sempat meragukanmu, bahkan hingga saat ini. Mungkinkah benar kita bukanlah dua orang yang cocok untuk dipersatukan. Sampai saat ini aku berusaha menjawab teka teki itu hingga kadang membuat batinku terasa pedih. Aku mencoba menyemangati diri jika kita baik-baik saja dan akan selalu baik-baik saja. Sayangnya, hati tak pernah membohongi dan jujur aku sempat sedih entah karena apa. Barangkali karena kita sudah memasuki ruang rasa yang sulit untuk dipahami, bahkan oleh diriku sendiri.

Seseorang yang Pernah Tercuri Hatinya di Kampung Inggris

Oh Kampung Inggris, Inikah salah satu tujuan Tuhan mengapa Dia mengirimku padamu. Biar aku belajar lebih banyak lagi tentang kedalaman rasa agar aku semakin dewasa menyikapinya. Benarkah aku sudah siap dengan semua ini? Atau aku memang seorang pengecut yang pergi begitu saja ketika ia tak mampu melewati setiap jengkal kehidupan yang seharusnya ia lalui dengan lapang dada. Aku tak tahu, sungguh-sungguh tak tahu, mengapa jadinya begini. Bisakah kamu membantuku menjawab setiap kegundahan yang melanda ini?

sihkah kamu seperti dulu? Penuh energi dan mempesona. Masihkah kamu sering terlambat datang untuk memenuhi sebuah janji? Atau ketiduran saat ada seseorang yang telah menantimu selama berjam-jam? Hmmm, semoga saja kamu mulai mengurangi kebiasaan burukmu itu. Dan aku? Tidak ada yang berubah, seperti saat pertama kali kamu mengenalku di Kampung Inggris dan berlanjut hari-hari berikutnya. Tidak tidak, anggap saja aku sudah banyak berubah atau menjadi semakin menyebalkan agar rasa rindu tak semakin tumbuh dan menjadi-jadi.

Tapi, biarlah sedikit kukenang perjalanan kita yang cukup singkat itu. Waktu kau sering mengajakku bertemu untuk sebuah alasan yang kadang terkesan dibuat-buat, untuk ajakanmu jalan-jalan di pagi hari menikmati suasana Kampung Inggris di akhir pekan atau asyiknya ngobrol sembari menikmati makanan hingga lupa waktu. Dan juga saat bergandengan tangan di bawah gerimis sepanjang jalan sebelum akhirnya kita harus berpisah di depan gerbang camp. Terimakasih utuk setiap momen indah yang telah engkau berikan. Biarlah itu menjadi bagian dari kisah kebersamaan kita selama tinggal di Kampung Inggris.

Namun, seperti petikan lagu itu “namun bila saat berpisah t’lah tiba…” Dan benar adanya, kita pun harus berpisah meskipun hati ini  belum benar-benar memantapkan diri untuh saling melabuhkan. Segala tanya belum sempat terjawab dan maafkan aku yang tak mempunyai keberanian untuk melanjutkan perjalanan lantaran khawatir kaki ini tersandung lalu jatuh, untuk kesekian kalinya. Biarkan hati kita tak menjadi rapuh lantaran arah perasaan yang kadang tak menentu. Maafkan aku karena telah datang ke Kampung Inggris dan mengusik hatimu yang masih rapuh itu.

Oh, mungkinkah kita menjadi bagian dari orang-orang yang mendapat ‘kutukan’ cinta satu periode yang cukup melegenda di Kampung Inggris itu? Bahwa seberat apapun perjalanan yang kita lewati, sedalam apapun perasaan yang menumpuk di hati, orang yang tadinya bersatu di tempat itu pada akhirnya akan berpisah juga, mengiringi periode-periode yang telah terlewati di Kampung Inggris.

Kau tahu? Sejujurnya aku tak menginginkan hal itu. Aku telah menghayati semua ini dengan sepenuh hatiku, walaupun mungkin sewaktu-waktu rasa ini bisa menyakiti diriku sendiri. Tapi tak mengapa, biarlah semua mengalir secara natural dan apa adanya seperti yang pernah kamu bilang. Suka duka, tangis tawa, datang pergi, semua mengiringi perjalanan hidup kita di dunia ini.

Termasuk ketika waktu terhenti sejenak mengiringi pertemuan kita, kemudian berputar begitu cepat mengabarkan kita harus berpisah di titik yang sama: Kampung Inggris. Sekali lagi, maafkan aku.

Dari,
Yang selalu mengagumimu dari segala sisi

Please follow and like us:

2 Comments

  • La ode
    Reply

    Kampung inggris bagaikan candu bagi semua member. It’s like kill two birds by one stone, we got extra bonus for things that we didn’t expected before….what I mean is love in secret…slowly but killingly stab “ghost of last periode”

  • Rizka Lazuardi
    Reply

    Cerita ini diangkat dari kisah nyata, cmiiw 😀

Leave us a Comment