Ekonomi Kampung Inggris

Ekonomi Kampung Inggris

“Bahasa Penjajah Yang Telah Menghidupkan Ekonomi Masyarakat Pare”

Istilah ‘Bahasa Penjajah’ bagi sebagian orang yang masih enggan untuk belajar berbahasa Inggris memang acap kali terdengar menggelikan, terutama ketika bahasa tersebut menjadi populer dalam bahasa keseharian. Seperti halnya kondisi para pengunjung di Kampung Inggris, Kota Pare yang terletak 25 km sebelah timur laut Kota Kediri, atau 120 km barat daya Kota Surabaya ini. Mereka awalnya begitu antusias karena bahasa penjajah yang selama ini menjadi momok, baik dalam Speaking, Grammar, hingga test TOEFL dan IELTS, menjadi ringan serta mengasyikkan. Apa sih rahasianya? Keunikan metode pembelajaran “Bahasa Penjajah” di Kampung Inggris juga menjadi salah satu faktor magnetis untuk menarik keberadaan pengunjung. Berbeda dengan mata pelajaran umum di sekolah-sekolah maupun kampus, proses pembelajaran bahasa dibagi menjadi beberapa part untuk membuatnya lebih efisien. Seperti ketika Siswa ingin belajar metode speaking, maka ia dianjurkan untuk memilih kelas speaking. Kelas tersebut fokus terhadap conversation, pronunciation, dan penggunaan grammar for speaking dalam keseharian. Sedangkan bagi mereka yang ingin mempelajari displin ilmu tata kebahasaan, mereka dapat mengikuti kelas grammar, vocabularies, dan TOEFL Insight. Substansi dari ilmu-ilmu tersebut juga dapat terpecah menjadi beberapa kelas pendalaman seperti listening, listening for toefl, grammar, grammar for TOEFL, reading, dan beberapa kelas lainnya. Mengenai level pembelajaran, Kampung Inggris tidak menerapkan sistem kelas melalui umur, melainkan tingkat kemampuan bahasa Inggris pengunjung tersebut. Placement Test di beberapa tempat kursus bertujuan untuk menempatkan kesesuaian kelas para peserta terdaftar, terutama untuk kelas Speaking. Ini memungkinkan kelas berjalan dengan efektif karena setiap kelas memiliki siswa dengan kemampuan sejajar. Meskipun beberapa kelas seperti TOEFL, Listening, dan IELTS tidak memiliki sistem placement test, metode yang digunakan masih tetap unik dan tidak membosankan.

 

Well, membedah masa lalu lokasi Kampung Inggris yang bertepatan di Desa Tulungrejo, para penduduk mengatakan bahwa keadaan desa begitu sepi sebelum kemunculan berbagai macam tempat kursus. Namun semua itu berubah semenjak seorang santri asal Kutai Kartanegara yang pernah menimba ilmu di Pondok Modern Gontor, Ponorogo, Kalend Osen, pada 15 Juni 1977 di desa setempat mendirikan lembaga kursus dengan nama Basic English Course (BEC) dengan hanya enam siswa pada kelas pertama. Padahal dulunya Mister Kalend terpaksa meninggalkan bangku sekolah karena tidak kuat menanggung biaya pendidikan. Bahkan, ia gagal pulang kembali ke kampungnya karena ketiadaan biaya. Dengan semangat yang gigih beserta dorongan inspiratif dari KH Ahmad Yazid, seorang ustadz yang menguasai delapan bahasa asing, Mister Kalend akhirnya berhasil menjadi perintis keberadaan Kampung Inggris yang saat ini begitu terkenal. Tak hanya BEC, kurang lebih seratus lima puluh buah lembaga bimbingan belajar telah berdiri dan menawarkan kursus dengan banyak pilihan program berdurasi dua minggu, enam bulan, hingga satu tahun. Beberapa pilihan tempat kursus ternama diantaranya adalah Global English, The Daffodils,Elfast, Kresna, dan masih banyak lainya.

Kampung Inggris juga menyediakan lembaga kursus yang membuka program kursus bahasa lain seperti bahasa Arab, Jepang, Mandarin, Korea, dan kursus bahasa Prancis. Karena itulah saat ini kota Pare dapat dikatakan sebagai pusat pembelajaran bahasa Asing yang murah, efisien dan efektif. Oleh karena itu Desa Tulungrejo kini berubah menjadi daerah yang aktif dan ramai oleh pengunjung. Kondisi ini sedikit banyak telah membuka kesempatan bagi warga maupun para investor untuk membuka lahan bisnis berupa food court, dormitory, bookstore, dan clothing.

Tak ketinggalan berbagai macam pelayanan jasa berupa dentist, hospital, dan beauty care cukup melengkapi keberadaan fasilitas yang tersedia. Pusat perbelanjaan dengan harga terjangkau beserta toko-toko aksesoris yang menjual aneka pernak-pernik khas pare juga turut memanjakan pengunjung sehingga mereka dapat membawa pulang cendera mata seusai menikmati wisata ilmu di Kampung Inggris. Mengenai informasi lebih lanjut, para calon pengunjung dapat mencari informasi tentang Kampung Inggris melalui internet maupun datang langsung ke lokasi. Kontribusi pembelajaran bahasa ini setidaknya telah membantu masyarakat Pare dalam meningkatkan kreatifitasnya mengembangkan lokasi wisata daerah. Meskipun beberapa puluh tahun silam Inggris pernah menjajah Indonesia dengan kejam, namun tidak ada salahnya kita sebagai masyarakat yang cerdas mempelajari ‘bahasa penjajah’ tersebut demi kemajuan bangsa. Termasuk dengan mendukung eksistensi Kampung Inggris sebagai tempat belajar yang murah dan efisien bagi masyarakat khususnya. (agk)

Blog Attachment

Leave us a Comment