Miniatur Indonesia di Kampung Inggris Pare

Selama ini kita mengenal miniatur Indonesia itu ada di Jogja sebagai kota pendidikan dan Jakarta sebagai pusat dari segala bidang mulai dari pemerintahan, ekonomi dan bisnis, namun sebagian besar dari kita belum tahu kalau sebutan miniatur Indonesia ini sekarang sedang tumbuh disebuah kota kecil bernama Pare tepatnya di desa Pelem dan Desa Tulungrejo, Kecamatan Pare, Kabupaten Kediri merupakan tempat kecil yang ada di Jawa Timur. Jangan dimasalahkan kecilnya, tapi ini adalah menegenai isinya. Karena desa ini mempunyai julukan sebagai Kampung Inggris dan Kampung Inggris ini hampir memiliki semua yang ada di Indonesia bahkan luar negeri. Maksudnya, banyak pendatang dari berbagai penjuru yang membawa semangat baru datang ke Pare untuk balajar bahasa Inggris.

Rasa yang sangat fantastik, ketika berkumpul dengan orang yang berbeda daerah, budaya, suku, agama dan adat istiadat. Semua orang tahu Indonesia terbentang dari Sabang sampai Merauke dan Pare memendekkan bentangan tesebut di Kampung Inggris ini. Banyak siswa dari berbagai daerah kumpul di kampung ini dengan satu tujuan belajar bahasa Inggris, sebagian dari mereka datang dari daerah seperti Palembang, Medan, Riau, Batam, Jawa, Bali, Nusa Tenggara Barat, Kalimantan Timur, Banjarmasin, Sulawesi, Ternate, Maluku, Papua, Malaysia, Timor Leste dan masih banyak lagi. Jadi serasa ada di miniatur Indonesia disini, dan jangan sia-siakan kesepatan yang ada. So, are you ready for having fun?

Kerena dengan mudahnya orang akan mengenal berbagai budaya dan etnik di Kampung Ingris. Sharing, transfer knowledge, game di kelas atau bahkan sambil nongrong ngokopi di warung, kita dapat tahu tempat wisata, budaya, makanan khas daerah, tata letak kota, perusahaan besar, cinderamata daerah dan yang lainnya. Sangat mudahkan. Setidaknya, kita punya relasi jika kita berkunjung di semua wilayah Indonesia.

Selain itu, Pare tidak kalah dengan tempat lain. Pare mempunyai tempat wisata tersendiri dan Pare juga dekat dengan tempat-tempat wisata. Jadi tidak perlu kawatir, jika kita membutuhkan refreshing karena suntuk. Diantaranya, Air Terjun Dolo, Simpang Lima Gumul, Gunung Bromo, Gunung Kelud, Candi Sorowono, dan masih banyak lagi. Selian menyenagkan, bermain bersama (wisata) itu dapat menjalin hubungan yang baik dengan teman baru kita yang dari berbagai macam daerah.

Tapi dengan banyaknya budaya dan suku di Kampung Inggris. Ini akan mendatangkan masalah lain lagi, yaitu gesekan budaya. Pasti akan ada budaya yang kalah, atau malah akan tercipta budaya yang baru. Contohnya, jika dulu berpegangan tangan lawan jenis itu melanggar norma, bagaimana sekarang? Kemudian bagaimana cara mengatasinya? Pasti banyak pakar yang dapat memecahkan permasalahan tersebut. Namun apakah diperlukan seminar besar setiap hari di Kampung Inggris yang pendatangnya sering datang-pergi? Apakah harus ada pendataan secara terperinci? Atau apa-apa harus dilakuakan? Pasti membutuhkan banyak tenaga, waktu dan pikiran. “Semut di seberang lautan tampak, tapi gajah di pelupuk mata tidak tampak” itulah kata pepatah, ketika orang yang langsung menyalahkan yang lain tentang masalah yang kita hadapi.

Sudah menjadi kewajiban untuk saling menghormati dan saling menghargai. “Harus bisa jaga diri dan mulailah dari yang kecil (diri sendiri)” kata orang tua. Apalagi bagi seorang pendatang, mereka harus menghormati budaya tuan rumah dan sangat disarankan untuk sedikit mempelajari budaya tuan rumah tersebut. Agar keharmonisan dapat lebih hangat di Kampung Inggris Pare, Kediri, Jawa Timur.

Comments

comments