Cuma lima ratus ribu Untuk Menjadi Master Inggris ( sebuah Kisah Inspiratif dari kampung inggris)

Mr. Nyom-Nyom, itulah sapaan akrab para member dan teman dekatnya. Dengan wajah yang mirip dengan Deni Cagur, dia menjadi seorang sosok yang menyenangkan dalam bergaul maupun dalam mengajar. Nama aslinya adalah Muhammad Saiful Umam dia lahir di kabupaten Blora, tanggal 17 Agustus 1990. Rasanya seperti tidak percaya kalau dia lahir pada tanggal tersebut. Namun apa dikata, memang itu kenyataanya. Dan dimasa kecilnya, dia ikut orang tuanya hidup di Dukuh Temuireng, Desa Pengkol Jagung, Kec. Jati, Blora dengan 1 kakak dan 1 adik.

Mengingat kondisi ekonomi keluarganya yang serba pas-pasan , setelah lulus dari SMA dia memutuskan untuk meninggalkan kampung halamanya  demi memperjuangkan hidup dan dapat terus belajar. Bojonegoro menjadi pilihannya Kota yang di kenal dengan Ladang Minyak ini dia mengadu nasib, beruntung dia bertemu dengan seorang kyai yang memberinya tumpangan dan pekerjaan, Dia berusaha bekerja untuk menghidupi dirinya sendiri, salah satunya sebagai salesman air minum. Di bawah terik matahari, kesetiap hari sebelum dia berangkat ke kampus  Nyom-Nyom mengantar daganganya ke pelanggan. Dia menggangap lumayan, jika gaji dia sebesar Rp 200.000,- /minggu. Dan selama bekerja, sempat beberapa kali terbesit di hati Nyom-Nyom sebuah kalimat “apakah selamanya aku akan hidup seperti ini?”

Di kemudian hari, dengan bermodal tekat bulat di tambah uang Rp 500.000,- Nyom-Nyom bertekat untuk pergi ke kampung inggis Pare, dia akan mempertaruhkan nasibnya di sana. Dengan ilmu ekonomi yang dia miliki, dia membuat estimasi biaya.

Modal                     Rp 500.000,-        waktu                     ∞            minggu

Kos                         Rp   50.000,-         waktu                     2              minggu

Kursus                   Rp 150.000,-        waktu                     4              minggu

Makan, dll             Rp 300.000,-        waktu                     ∞            minggu

Sisa                        Rp      ∞                 waktu                     ∞            minggu

Memang ada salah dalam estimasi Nyom-Nyom,  tapi itulah Nyom-Nyom.

Setelah 2 minggu kosnya habis, Nyom-Nyom memutuskan untuk tidur di masjid. Dalam hatinya berkeyakinan, “keberuntunagan akan bersama orang baik” dan teryata benar keberuntungan menghampirinya, dia diterima dengan baik oleh takmir dan menjadi pembantu takmir waktu itu. Dia memiliki tanggungjwab sebagai mu’adzin dan membersihkan masjid. Setelah beberapa pekan, dia mendengar informasi tentang progam beasiswa Teaching Clinik dari Global English. Dengan segera dia memutuskan untuk bergabung dengan beasiswa tersebut dan seleksi tahap 1 dimulai. Karena jarak seleksi tahap 1, 2 dan 3 terlalu jauh. Dia memutuskan untuk pulang kerena hanya jalan itu yang ada. Setelah pengumuman seleksi tahap 1, hati gemira dia miliki, Nyom-Nyom lolos dalam seleksi tersebut. Dia segera kembali ke kampung inggris Pare lagi untk menjemput impiannya. Begitupun dengan seleksi ke-2 dan ke-3,  dia lolos. Yang menjadi kisah menarik adalah setiap Nyom-Nyom berangkat dari Bojonegoro ke kampung inggris Pare dia selalu kehujanan lebat. Namun semangat membuat dia merasa perjuanganya seimbang dengan hasilnya dan bahkan menembah nilai plus, kerena semua kejadian itu membuat tambah dewasa.

Progam beasiswa pun dimulai dan selama progam Teaching Clinik (TC) memang membutuhkan kedewasaan. Kerena kedisiplinan, ketelitian, kepedulian, keberaniaan, dan kebersamaan harus melekat dalam diri peserta TC. Karena progam TC membutuhkan waktu yang lumayan lama, Nyom-Nyom tidak kekuarangan akal untuk mengatasi kehidupannya selama progam tersebut. Dia membawa beras dari rumah. Dan jika waktu makan datang dia akan menyediakan nasi untuk teman-temannya dan temannya yang akan menyediakan lauk. Disamping itu juga, karena camp Global English menyediakan dapur umum. Jadi terasa sangat nyaman seperti rumah tersendiri.

Dan sekarang Nyom-Nyom sudah menjadi tutor di kampung Inggris. Dia sudah dapat menghidupi dirinya sendiri dan bahkan dia sudah bisa membantu biaya hidup orang tuanya walaupun hanya sedikit. Tatapi dia belum merasa puas akan hal tersebut, selain menjadi tutor dia juga masih belajar bahasa inggris untuk terus mengasah kemempuannya.

Masih terbesit, mengapa Muhammad Saiful Umam bisa dipanggil Nyom-Nyom. Panggilan Nyom-Nyom dia dapat waktu dia sekolah di MAN Purwodadi. Dia mempunyai banyak teman disana tanpa terkecuali teman-temannya dari panti asuhan. Lokasi MAN yang dekat dengan Simpang Lima Purwodadi memberikan kisah tersendiri, karena hampir setiap sore dia dapat bermain sepak bola bersama teman-temannya disana. Dari situlah panggilan  Nyom-Nyom dia dapat, karena wajahnya hampir sama dengan dengan pemain sepak bola kesebelasan kota purwodadi. Kemudian,  Muhammad Saiful Umam mengabadiakan nama Nyom-Nyom dalam dirinya, untuk mengingat teman-temannya dari panti asuhan, walaupun kadang di kampung inggris Muhammad Saiful Umam di panggil dengan Deni Cagur. Semangat, tekun, berani dan percaya bahwa Tuhan memiliki jalan terbaik bagi hambanya yang baik adalah kunci  Muhammad Saiful Umam untuk meraih mimpinya. Jangan hanya masalah uang, bisa menghambat cita-citamu tapi yang menjadi masalah adalah bagaimana kita melangkah, berani atau tidak sama sekali. Pengorbanan dan keberanian itu kadang sangat penting dalam kehidupan kita. Jadi, lakukan yang terbaik bagi kehidupanmu.

Pengajar Kampung inggris

Belajar di kampung inggris

Solidaritas Seorang Nyom-nyom Untuk Sesama

Comments

comments