Proses transformasi pendidikan agama menuju pendidikan umum

Pesantren yang didirikan oleh KH. Abdul Qohar beserta putranya yaitu KH. M. Thohir mengalami peningkatan dan perubahan dalam setiap masanya, hal yang mencolok pada saat cucu KH. Abdul Qohar yang Bernama KH. Ahmad Yazid mulai menyisipkan pendidikan umum seperti bahasa asing. KH. Ahmad Yazid merupakan tokoh intelektual dan modernis yang memiliki jiwa visioner dalam memperjuangkan umat dan bangsa. Dari kecerdasan beliaulah Pare yang bermula merupakan kampung tradisional menjadi kawasan pendidikan. Berawal dari beliaulah yang turut ikut serta mengajar, menjadikan mushola dan pesantren digemari oleh para pemuda karena dikarenakan sistem pembelajaran unik dan mengasyikkan yang beliau terapkan menggunakan bahasa asing dalam setiap mengajar ngaji. KH. Ahmad Yazid merupakan aktivis yang mampu menggunakan 11 bahasa internasional, seperti bahasa Inggris, Belanda, Urdu, Ibrani, Arab, Mandarin, Korea, Jepang, Rusia, Perancis, dan Jerman, namun masyarakat sekitar hanya mengetahui bahwa beliau mampu sembilan bahasa. Kemampuan 11 bahasa beliau terbukti dari koleksi buku di perpustakaan pribadi yang beliau memiliki sendiri. Dan bukti jika beliau mampu 11 bahasa adalah di setiap lembar buku terdapat catatan kecil sebuah ringkasan yang bertuliskan huruf Jawa Pagon (tulisan Arab yang bermakna bahasa Jawa). Perpustakaan beliau memiliki koleksi lebih banyak daripada koleksi perpustakaan umum atau kota. Berdasarkan putera kedua Ahamd Yazid yaitu H. Nurhasan Yazid menyampaikan bahwa KH. Ahmad Yazid memiliki lebih dari 2000 koleksi buku dalam berbagai bahasa International namun saat ini buku-buku beliau banyak yang hilang dan rusak dikarenakan kurangnya perawatan dan penjagaan. KH. Ahmad Yazid merupakan informant center dalam proses penelitian yang dilakukan oleh antropolog dunia, Clifford Geertz. Clifford Geertz memiliki karya tulis yang sangat fenomenal yaitu, “The Religion Of Java dan After The Fact, Two Countries, Four Decades, One Anthropologist” yang mengklasifisikan tentang Islam di Jawa menjadi tiga kluster, yaitu: abangan, priyai, dan santri. Namun dalam karya Clifford Geertz tersebut nama Pare disamarkan menjadi Mojokuto dan disebut dalam buku beliau bahwa KH. Ahmad Yazid merupakan sahabat dekat beliau. Selain Clifford Geertz, ada juga tokoh nasional seperti HOS Cokroaminoto, M. Nasir bahkan Gus Dur yang pernah berkunjung serta diskusi dan belajar bersama KH. Abdul Qohar dan KH. Ahmad Yazid.

Komersialisasi Kampung Bahasa Pare

Sepeninggal kakeknya dan ayahnya KH. Abdul Qohar dan KH. M. Thohir, KH. Ahmad Yazid mendapat amanah untuk mengembangkan pesantren dan mushola yang hingga kini menjadi Masjid Jami’. Beliau memiliki berbagai santri dari berbagai daerah yang datang silih berganti untuk minimba ilmu agama pada khususnya dan bahasa asing. Pada masa Pondok Darul Falah diasuh oleh KH. Ahmad Yazid, beliau masih menerapkan sistem pengajaran mengaji dan bahasa tanpa dipungut biaya, namun santri dituntun untuk memiliki semangat belajar yang tinggi dan membersihkan masjid serta lingkungan sekitar pesantren. Dari peraturan tersebut belum memliki santri yang sangat berpotensi salah satunya adalah Kalend Osen.

Saat itu Kalend Osen merupakan pemuda berasal dari Kalimantan, merupakan salah satu santri yang mendapatkan amanah dari KH. Ahmad Yazid untuk mengajar dua mahasiswa IAIN Sunan Ampel dalam proses menghadapi ujian negara. Berawal dari mengajar tersebut pada tahun 1976, Kalend Osen memberanikan dari untuk membuat lembaga non-formal yang bertujuan meningkatkan pendidikan masyarakat sekitar dan warga pendatang yang ingin belajar bahasa Inggris. Pada tahun 1977, Kalend Osen mulai meresmikan lembaga pendidikan non-formal dengan nama BEC yang merupakan cikal bakal komersialisasi lembaga kursusan. Pendidikan non-formal dianggap mampu menjawab kegelisahan para peserta didik. Sebenarnya pendidikan non-formal bukan merupakanhal baru dalam kebudayaan manusia, juga bukan barang baru bagi negara kita. Justru sistem pendidikan sekolahlah yang merupakan perkembangan baru bagi peradaban manusia. Pada awal mula didirikannya, pendidikan non-formal BEC bertujuan agar lulusannya mampu bersaing dalam dunia kerja. Hal tersebut sesuai dengan apa yang dituturkan oleh Sanapiah Faisal dan Abdillah Hanafi bahwa pendidikan non-formal yaitu kegiatan belajar secara sistematis dan teratur yang dilakukan di luar sekolah yang bertujuan memberikan aneka ragam kegiatan belajar yang langsung dengan dunia pekerjaan. Sehingga hal itu menjadikan Pare sebagai surganya para pencari kerja dan pembisnis. Di setiap gang dan rumah terdapat berbagai kursusan dan asrama ataukah yang sering disebut camp, menggunakan English area sehingga menjadi peluang bisnis bagi pemilik modalnya dalam mengembangkan Kampung Bahasa Pare.

Modernisasi Kampung Bahasa Pare

Kecamatan Pare yang bermula dari pesantren tradisional pada tahun 1890-an, kemudian menjadi Kampung Inggris pada era 1980-an hingga awal 2000-an dan saat ini berubah menjadi kampung modern yang terdapat ATM, mini market, distro dan berbagai macam warung yang berbentuk restoran maupun kafe dan juga terdapat homestay serta hotel. Hal ini menimbulkan berbagai dampak baik positif seperti meningkatnya pertumbuhan ekonomi dengan banyaknya para pemilik modal yang menanamkan modal di Kecamatan Pare dan dampak negatifnya seperti terjadinya kriminalisasi, lahan pertanian semakin semakin sempit, dan lemahnya persaingan masyarakat sekitar dengan para pendatang dalam sisi ekonomi dikarenakan mayoritas pemilik kursusan yang berjumlah lebih dari 100 lembaga kursusan adalah warga pendatang dan pemilik modal, sehingga warga sekitar lebih memilih untuk keluar dari kampung halamannya untuk mencari mata pencaharian.

Pare yang merupakan Kampung Bahasa atau yang terkenal dengan Kampung inggris sangatlah berbeda dengan julukan dan realitas sosial masyarakat asli. Banyak yang menganggap bahwa seluruh masyarakat asli Pare mampu berbahasa Inggris, namun anggapan tersebut tidaklah bisa diasumsikan benar ada beberapa warga yang mampu berbahasa Inggris tetapi mayoritas warga asli menggunakan bahasa daerah yaitu Jawa. Julukan tersebut diakibatkan karena banyaknya kursusan bahasa Inggris walaupun ada kursusan seperti bahasa Jepang, Mandarin, Jerman, Korea dan arab namun yang mendominasi lembaga kursusan adalah bahasa Inggris karena merupakan kebutuhan pasar dunia kerja serta pendidikan.

Sumber : Dani Mustofa “Pijar Hingga Terang, Kumpulan Gagasan Kebangsaan Awardee YIB 2016″

Comments

comments