Kampung Inggris Pare tak asing di telinga kita, kecamatan yang berada di bagian utara Kabupaten Kediri ini sangat terkenal di seluruh pelosok dan penjuru Nusantara. Pare yang sudah dikenal dengan sebutan english village memiliki daya tarik tersendiri untuk “pemburu” ketrampilan berbahasa Inggris. Dengan metodenya yang unik dan bisa menyesuaikan dengan waktu yang dimiliki oleh customer-nya maka banyak ragam program yang ditawarkan. Bahkan kota yang konon berdiri sejak zaman Kerajaan Majapahit ini pernah disinggahi oleh antropolog kaliber dunia pada tahun 1952-1954, Clifford Geertz, seorang peneliti yang sedang menempuh program doktoral di universitas terkemuka di dunia yaitu Universitas Harvard.

Kecamatan Pare yang terdiri dari 11 desa, diantaranya Desa Pare, Tulungrejo, Gedang Sewu, Pelem, Tertek, Canggu,Bendo, Sambirejo, Darungan, Sumberbendo, dan Sidorejo tersebut merupakan wilayah yang penuh dengan lahan pertanian, seprti : padi, buah-buahan dan sayur-sayuran bahkan salah satu desa tersebut terdapat pertenakan hewan. Basis kurusan bahasa hanyalah dua desa, yaitu Desa Tulungrejo dan Desa Pelem. Kedua desa tersebut memiliki perkembangan lebih cepat dibandingkan desa-desa lain yang berada di kawasan Kecamatan Pare dalam segi perekonomian. Namun bagi kalangan petani dan peternak tidak hanya memiliki sebutan kampung bahasa melainkan memiliki julukan Kampung Madu, Kampung Ikan Koi dan juga Kampung Lele. Sebutan tersebut menandakan bahwa daerah Pare merupakan daerah yang mana pertumbuhan perekonomian di daerah tersebut sangatlah pesat.

Pijakan awal perkembangan Pare

Sebelum terbentuknya sistem perekonomian yang sangat pesat, kawasan Pare bermula dari suatu pendidikan non-formal yaitu pesantren yang dilaksanakan di mushola yang diberi nama Pondok Pesantren Darul Falah (Masyarakat sekitar menyebutnya dengan PDF). Ponpes Darul Falah didirikan oleh tokoh ulama KH. Abdul Qohar pada tahun 1890. Di masa itu, Pare merupakan daerah yang mana banyak pesantren dengan berbagai bidang keilmuan yang berkonsentrasi pada nilai-nilai agama seperti fiqh, nahwu, sorof, dan lain sebagainya. Pada saat itu terdapat sekolahan yang hanya bisa meng-cover Bahasa Belanda dan golongan pribumi bangsawan, namun bagi warga sekitar yang tidak memiliki garis keturunan bangsawan tidak dapat berkesempatan untuk mengenyam pendidikan umum. Tetapi kegelisahan tersebut terjawab dengan keberadaan pesantren. Berdasarkan penelitian terkemuka Manfred Ziemek yang terkenal dengan tulisannya tentang pesantren dalam perubahan sosial pada tahun 1986, menuturkan bahwa pesantren sebagai agent of change di kawasan pedesaan Jawa yang berfungsi sebagai pangkal tolak dan dasar pijakan bagi organisasi swadaya dan digunakan oleh penduduk sebagai jawaban atas marginalisasi yang kian mengikat oleh administrasi negara yang exploitasi. Pesantren mampu menjawab kebutuhan keilmuwan bagi warga pribumi tradisional yang termaginalkan dari sisi perekonomian serta pendidikan umum. Pesantren mampu sebagai pijakan atau pondasi awal terbentuknya sistem pendidikan Indonesia saat ini. Berdasarkan dikotomi yang terjadi pada realitas kondisi kemasyarakatan sekitar Pare, maka KH. Abdul Qohar beserta putranya, yaitu KH. M. Thohir mendirikan pendidikan non-formal dilingkungan rumahnya dengan konsep pendidikan pesantren dan bersifat gratis bagi warga sekitar dan pemuda pendatang yang haus akan pendidikan agama. Pesantren tersebut sangatlah ramai bagi warga yang belajar dengan intensif. Bersama beliau hal ini menandakan bahwa pesantren memiliki tokoh sentral yang disebut dengan kiyai yang berperan sebagai pemimpin dalam proses sosial keagamaan dan politiknya yang mengarahkan pengikutnya untuk melakukan dan mendalami apa yang telah diberikan dalam proses pendidikan di pesantren atau sering disebut dengan mengaji sehingga kiyai merupakan bagian dari agen perubahan sosial.

.  .  . ( Bersambung…!! )

Comments

comments