Hitam Putih Di Pare Global English

Sungguh tak terbayangkan akhirnya mimpiku untuk belajar Bahasa Inggris secara maksimal berada di depan mata, dan tak pernah terbayang dipikiranku ternyata banyak teman sekelas saya yang memiliki mimpi yang sama, yaitu belajar Bahasa Inggris di Kampung Inggris Pare-Kediri.

Awal saya tiba di pare, saya langsung merasa terkejut, karena apa yang saya bayangkan mengenai Kampung Inggris tidak seperti apa yang telah diimajinasikan oleh pikiranku yaitu perkampungan yang jauh dari perkotaan, suasana alami, jalan setapak, persawahan dan keadaan yang sunyi senyap, namun itu semua bertolak belakang dari apa yang ada.

Saya pernah berpikir bahwa saya dan teman-teman saya adalah pendatang yang sangat asing karena berasal dari provinsi dan pulau yang berbeda, tetapi fakta membuktikan bahwa ternyata juga banyak pendatang yang juga berasal dari daerah yang sama dengan kami yaitu Makassar, dan saya baru tahun ternyata ada organisasi khusus untuk pelajar Sulawesi yang dikenal dengan nama ASSET, dan mungkin satu-satunya organisasi daerah yang berada di Kampung Inggris, tapi diluar dari pada itu juga terdapat banyak pendatang yang berasal dari Jawa, Kalimantan, Sumatera, Papua dan bahkan dari negara yang berbeda yaitu Libya dan kebetulan orang Libya tersebut merupakan teman 1 program saya di Speaking 2.

Setelah saya berproses dan menjalani adaptasi dengan lingkungan sekitar asrama dan lingkungan belajar, ternyata orang-orang yang nampak secara fisik telihat garang ternyata memiliki hati yang baik, periang, humoris, dan yang terpenting dapat saling menghargai sehingga mencerminkan dasar dari negara kita yaitu Bhineka Tunggal Ika.

Saat saya mulai menjalani lingkungan yang baru, itu merupakan hal yang sifatnya hitam dan putih, terdapat suka dan duka mewarnai aktivitasku, utamanya di lingkungan asrama yang merupakan “Area Speak English” . Saya mengakui bahwa saat saya belajar di Global English ibarat golok yang diasah setiap hari, sehingga terlihat sering menampakkan ketajamannya, hal itu saya ungkapkan karena sistem dan waktu pembelajaran Global English sangatlah padat, sehingga waktu untuk beristirah sangatlah minim dalam seharinya, terkecuali hari Minggu, saya mengakui bahwa Input dan Output yang ada tidak seimbang karena bertepatan dengan Bulan Suci Ramadhan, dan sempat terlintas dipikiran saya bahwa saya berada di lingkungan pesantren.

Hari demi hari berganti dan saya pun sering mendengar keluh kesah dari teman-teman saya bahwa mereka mengalami 3L yaitu letih, lemah, dan lesuh sehingga mereka tidak betah dan ingin segera pulang, tetapi saya sebagai teman yang baik (HEHEHE… BLAGU :D) sering meyakinkan mereka bahwa ini masih awal perjuangan, kita belum memasuki perang yang sesungguhnya, disinilah kita menyiapkan segala peralatan dan perlengkapan perang sebelum memasuki rana peperangan, jadi jangan pernah menyerah dan ingatlah tujuan kita kesini serta keringat orang tua kita yang keluar sehingga kita bisa berada di sini. Yah itulah kata-kata yang mungkin sering memenuhi telinga teman saya (HEHEHEHE..)

Pagi berganti siang dan siang berganti malam, putaran jarum jam terus berputar mengikuti hari yang terus berlalu, berbagai macam tingkat laku dari tentor maupun member membuat suasana menjadi ceria dan nyaman, sehingga kebetahanpun saya saat berada di sini, dan saya percaya bahwa kesunggunahan dan ketekunan saya belajar di sini insyaallah akan berbuah kesuksesan dan kebahagiaan. AMIN 

BY KHAIDIR RAHMAN DI MALE 1

Comments

comments