Garangnya “Mr. dan Miss Punishment” dan Indahnya Kebersamaan Selama di “Camp” (Kampung Inggris)

Tempat tinggal untuk belajar di kampung Inggris ada beberapa pilihan. Numpang di rumah keluarga atau kenalan di dua kampung ini: Tulungrejo dan Pelem atau desa terdekat se-kecamatan Pare. Memilih indekos, atau masuk program asrama (dormitory) lembaga kursus yang istilah kerennya camp. Di tempat tinggal yang saya sebut diatas, tentu memiliki sejumlah peraturan yang wajib ditaati. Tempat kos misalnya, meski terkadang bebas tetapi ada istilah jam malam selain aturan tamu dan lawan jenis tidak diperkenankan masuk kamar, gerbang pun selalu di gembok antara pukul 22:00 PM sampai 23:00 PM -waktu malam Kediri. Tentunya ini semua untuk menjamin komitmen belajar serta kenyamanan dan keamanan bersama.
Mau tinggal di camp atau kos itu terserah anda. Tetapi jika ingin cepat-cepat mahir English masuklah camp, karena hampir semua camp menawarkan program tambahan di subuh dan malam hari. Di camp, disitu ada peraturan yang harus dipatuhi semua penghuni seperti kewajiban mengikuti program-program tambahan, serta yang paling menarik ada English Area-nya yang selalu berakhir dengan “Punishment” atau denda bagi yang tentu saja melanggar.
Di camp yang sudah tentu ada kewajiban English Area-nya ini, semua tak pandang bulu, harus cas…cis…cus English, sangat k-e-t-a-t, tidak boleh Speak bahasa. “So, you have to speak English everyday and everytime, even with your roommate”, semua berlaku baik yang sudah mahir berbahasa, setengah mahir atau yang masih baru memulainya -istilah masih nol. Biasanya kesepakatan denda ini dirapatkan secara bersama semua anggota diawal masuk camp –di tanggal 9 malam dan tanggal 24 malam setiap bulan, termasuk memilih “Mr. Punishment” untuk camp Putra atau “Miss Punishment” untuk camp Putri.
Di dalam camp yang ada peringatan “English Area…, not for Animal Language…!” ini, maka siapapun mau tidak mau (willy-nilly) harus berbahasa Inggris. Nah, bagi para pelanggar aturan ini dendanya sudah menanti dan Mr. atau Miss Punishment dengan garang langsung meminta uang Rp. 500 sampai Rp. 1.000, tiap denda perkata -atau sesuai dengan point mistake yang dilanggar- kadang pula diminta mengucapkan kembali hafalan vocabulary, bernyanyi lagu-lagu atau membaca puisi, berpidato dalam bahasa Inggris atau jika beruntung ada pula hukuman membersihkan seluruh wilayah camp sampai kamar mandi/WC tentunya…hahaha.
Kadang peraturan ini dibilang “kejam”, akan tetapi denda ini semata-mata untuk mendisiplinkan, membiasakan, memotivasi pelajar membudayakan pengunaan bahasa Inggris yang sementara dipelajari. Dengan begitu siapapun akan terpacu untuk lebih giat belajar, setidaknya jangan bermalas-malasan agar tak mendapat punishment. Karena kalau tidak, anda akan menjadi orang yang sangat ‘pendiam’ atau paling ‘dermawan’ yang selalu setia memberikan sumbangan atas dendanya.
Maklum semua pun setuju jika tujuan datang kesini –ke Desa Tulungrejo dan Pelem- sudah tentu untuk belajar dan bukannya “berwisata di kampung bahasa”…hehehe. Kalaupun kemampuan bahasa Inggris kita masih ‘nol’, atau lupa, mungkin juga pura-pura lupa, maka kita bisa bertanya ke tutor (teacher di camp), koordinator camp, teman sekamar atau segera membuka kamus. Dengan itu bantuannya luar biasa membantu, jadi kamus bisa kita bawa kemana-mana, dimasukkan ke saku celana untuk kemudian jika kita lupa jadinya tinggal membuka lagi, menghafal lagi. Jika beruntung punya hand phone yang ada kamusnya, yah tinggal pencet, buka dan liat kata serta artinya sesuai apa yang akan kita katakan. Gampang kan?
Untuk Mr dan Miss Punishment yang setiap seminggu sekali diganti ini, sebagai koordinator pengawasan dan penegak hukuman denda dengan garang dan kejam keduanya mencatat di papan pengumuman vonis denda dan aktivitas apa selama di camp. Tetapi segarang-garangnya Mr dan Miss Punishement, di akhir pekan atau sabtu sore, keduanya tiba-tiba menjadi orang yang paling baik hati, selalu mengumbar tawa dan senyuman. Olehnya, setiap uang hasil denda yang terkumpul dibuatlah pesta-pesta kecil seperti bakar ayam, ikan dan jagung, traktir minum kopi, teh, susu coklat dan nasi ketan di warung ketan yang terfavorit disini, atau berbelanja bahan makanan, buah-buahan di pasar Pamenang untuk dimakan bersama. Kadang hang out mengunjungi candi dan masuk goa Surowono, ke candi Tegowangi, Alun-alun, Monumen Garuda, mengunjungi Monumen Simpang Lima Gumul yang kembarannya gerbang Arc de Triomphe di Paris-Perancis, itu semua dilakukan dengan fun bike bersama atau naik kereta odong-odong.
Bagi mereka yang sudah terbiasa dengan ritme belajar disini, setelah seminggu atau dua minggu serius belajar tentu harus ada relaksasinya, jadi perlu refreshing, hang out-lah untuk beberapa jam, istilahnya “ada waktu untuk serius dan ada pula waktu untuk santai”. Memang belajar bahasa Inggris disini terkenal dengan singkatnya, bahkan dengan pertemanan. Kadang kita hanya bisa mengenal teman-teman kita selama dua minggu, sebulan dan setelah itu kita tidak akan bertemu lagi ketika semuanya kembali pulang ke rumah, ke desa, atau ke kotanya dengan kesibukan masing-masing.
Tapi menurut saya, kebersamaan selama dua minggu di camp juga selama di kelas itu waktu yang cukup untuk saling mengenal. Terutama dengan Mr atau Miss Punishment yang paling kita kenal juga sudah pasti spirit kebersamaan. Jadi saya pun hanya bisa bilang: “Oh, betapa luar biasanya belajar disini bersama garangnya Mr Punishment dan indahnya kebersamaan selama di camp”. #I believe this is an opportunity for us… where there is a will there is a way… Spirit… YES WE CAN

Comments

comments