.  .  .

Pelajaran yang pertama yang ingin aku kuasai pada bulan pertama adalah speaking, ya aku ingin seolah-olah menderita penyakit “anemia” terhadap bahasa daerah dan negaraku. Tanpa ada maksud ingin melunturkan jiwa nasionalisku. Targetku pada bulan yang kedua adalah menguasai grammar, dengan maksud aku tidak hanya lancar dalam berbicara, tetapi juga diiringi dengan struktur kata yang baik dan benar. Selain itu aku juga ingin jika suatu saat nanti bisa berbagi tips and trik belajar grammar dengan cepat. Tentu ketika aku sudah menguasainya terlebih dahulu. Sebagaimana yang disebutkan dalam pepatah Arab “Faqidhu syai’  La yu’thi’, maka barang siapa yang tidak memiliki sesuatu, bagaimana mungkin dia akan bisa memberi.

Pada bulan ketiga targetku sudah mampu menulis artikel-artikel berbahasa Inggris. Target pada bulan yang keempat adalah tidak sekedar menguasai beberapa bidang tersebut, melainkan juga sudah mampu mengajarkannya.

Dan untuk target-target yang selanjutnya tentu aku ingin menguasai komponen-komponen Bahasa Inggris secara universal. Mulai dari pembendaharaan vocabulary agar aku layaknya kamus yang berjalan, pronunciation yang menjadikan Bahasa Inggrisku tidak seperti Mas Tukul Arwana yang sering menciderai Bahasa Inggris aslinya, bahkan sampai nanti mendapatkan point yang tinggi pada TOEFL and IELTS.

Mungkin inilah ending dari goresan demi goresan yang dapat aku tuliskan, mungkin bagi orang-orang yang terbiasa dengan kehidupan yang serba berkecukupan dan keinginan yang serba mudah terwujud, Kampung Inggris bukanlah sesuatu hal yang istimewah, tapi bagi orang yang lika-liku kehidupannya sepertiku tentulah Kampung Inggris adalah hal yang luar biasa, sebagaimana yang dikisahkan dari sebuah novel “Sepatu Dahlan” yang ketika itu Dahlan Iskan kecil yang menganggap sepasang sepatu dan sepeda adalah impian yang sangat luar biasa, dan ternyata hari ini siapa yang menduga jika beliau akan menjadi seorang mentri BUMN yang sudah barang tentu hari ini dia bisa saja memenuhi satu pesantren Takeran dengan sepatu atau mungkin memadati kabupaten magetan dengan sepeda.

Begitulah roda kehidupan, tidak ada yang bisa mengetahui apa yang akan terjadi pada diri kita di hari esok. Ingat kesuksesan itu bukanlah ditentukan oleh kapasitas otak kita, tetapi melalui karakter. Ketika kita kehilangan karakter kita, maka sudah pasti kita telah kehilangan diri kita sendiri. Oleh karena itu tetaplah pertahankan karakter-karakter mulia yang kita miliki, pantang menyerah, rendah hati, jujur, loyalitas, integritas, disiplin serta berbagai macam karakter yang akan menunjang masa depan lainnya.

Betapa banyak orang yang  memiliki pendidikan yang rendah namun dengan karakter yang luar biasa mereka mampu mendulang kesuksesan.

Salam sukses, The Next Leader. Sebuah Catatan Dari Seorang Sahabat di Kampung Inggris, 19 Oktober 2012

Comments

comments