.  .  .

Malam itu kami belum bisa langsung mendaftar, karena para officer sudah pulang dan tentu jam kantor pun sudah berakhir. Untungnya Mr. Jewel seorang kenalanku itu memperbolehkan kami untuk menginap di office. Keesokan harinya pun kami mendaftar di lembaga kursus Global English dan ditempatkan di camp yang penuh kenangan yakni Saigon Boarding House.

Hari-hari kami lewati dengan ceria di bumi  yang “baru” ini, berbagai kisah indah pun terukir disini. Mulai dari hangatnya persaudaraan di Saigon yang sampai hari ini masih tetap terjalin kuat, hingga serunya pelajaran di kelas. Dan tak kalah dahsyat juga kenangan Modus for TOEFL, Meskipun sejatinya aku tidak terlibat dalam program yang terakhir ini,melainkan hanya sebatas pengamat setia saja, karena hari-hariku padat dengan program.^_^

Kedatanganku ke Pare pada periode itu dengan memasang target utama yakni speaking. Karena menurut pandanganku ribuan kosa kata yang tersimpan rapi di memori otak akan kurang berarti jika tidak di praktekan secara lisan. Bahkan seiring berjalannya waktu ia akan hilang sedikit demi sedikit.

Tanggal 7 Agustus 2012 adalah akhir periodeku menuntut ilmu di Kampung Inggris, berbagai kenangan  indah telah terukir disana. Bahkan setengah dari ibadah puasa ramadhan ku pun dihabiskan ditempat ini. Meskipun harus ku akui kualitas ibadahku sedikit menurun, tapi puasa tidak pernah ku jadikan alasan untuk tidak semangat dalam menuntut ilmu. Jika di zaman Rasulullah mereka mengangkat senjata ketika ramadhan,begitupun pada detik-detik menjelang kemerdekaan RI juga terjadi pada saat bulan suci ramadhan. Lantas kenapa kita yang berada pada kedamaian tidak mampu hanya sekedar mengangkat sebatang pulpen, ataupun tak kuasa sekedar memerangi rasa kantuk pada saat jam belajar. sungguh benar-benar  ramadhan yang indah.:-)

Sebelum hengkang dari Kampung Inggris, sejenak aku memanjatkan do’a dengan harapan suatu saat aku bisa kembali lagi ke Kampung Inggris guna menuntut ilmu lagi disana. Sebagaimana yang pernah aku baca bahwasanya ada dua hal yang ketika manusia sudah terebak didalamnya maka dia tidak akan pernah puas dengannya yakni ilmu dan harta.

Setelah beberapa bulan kaki ku beranjak dari Kampung Inggris tercinta, ternyata Allah masih mentakdirkanku untuk kembali lagi ketempat ini. Dengan segala kelemahan dan keterbatasan yang aku miliki aku mencoba untuk memberanikan diri mengikuti seleksi program Teaching Clinic yang diadakan oleh Global English , aku menaruh harapan besar terhadap program ini. Sebagai seorang pemuda yang memiliki semangat juang yang tinggi guna berbakti pada agama, negara dan keluarga tentu aku harus memilik skill/kemampuan yang dapat menunjang cita-citaku itu. Dan aku memilih dengan bahasa inggrislah aku akan mengabdi kepada ketiga komponen terbesar dalam hidupku itu,yakni agama, negara dan keluarga. Tentunya disamping itu aku akan tetap menjunjung tinggi nilai-nilai yang telah ditularkan oleh para guru-guruku. Sholat lima waktuku, sholat sunnahku, serta semua amalan-amalan yang pernah diajarkan kepadaku. English Yes, Religion Always! Seperti kata-kata yang sering kudengar dari guru-guruku “Berjihad tidak selalu dengan mengangkat senjata, dengan belajar karena Allah pun sudah termasuk jihad.

Di Global English aku beruntung dipertemukan Allah dengan Mr. Agus, seseorang Manajer  yang banyak membimbingku, menasehatiku, serta mengajariku bagaimana membuat perencanaan hidup yang matang. Di tempat yang sama meski dengan waktu yang berbeda aku juga dipertemukan dengan Mr. Toto seorang direktur muda yang banyak mengarahkanku dalam menentukan pilihan hidup yang tentunya tidak pernah terlepas dari koridor islam. Tak lupa pula para pemuda hebat yang dengan segudang pengalamannya, tak jarang kami menghabiskan waktu bersama mendiskusikan segala hal yang tentunya berguna untuk kehidupan dimasa yang akan datang, diantara pemuda-pemuda hebat itu yakni ada Mr. Bojeng, Mr. Rey, Mr. Nando dan lain-lain. Bang Irawan seorang pemuda enerjik yang sedang melanjutkan kuliahnya sembari menjadi imam di salah satu masjid di Kampung Inggris. Berangkat dari beberapa pertemuan dengan merekalah, sehingga aku tertarik untuk mendokumentasikan hikayat perjalananku menapaki hidup di Kampung Inggris ini, serta melalui secarik kertas ini pula aku mencoba menuliskan beberapa targetku jika seandainya Allah mengizinkanku untuk tetap berada di Kampung Inggris ini.

.  .  .  ( Bersambung…!! )

Comments

comments