.  .  .

Hari-hari berlalu begitu cepat, tak terasa sudah hampir satu setengah bulan keberadaanku dirumah, hingga 3 hari menjelang keberangkatanku untuk kembali ke pondok, akhirnya aku mencoba untuk memberanikan diri menyampaikan keinginanku ini kepada kedua orangtua ku bahwasanya aku ingin kursus Bahasa Inggris di Pare-Kediri. Sontak suasana di malam itu pun menjadi sunyi sepi, ada rasa penyesalan yang menghantuiku. Betapa merepotkannya diriku. Mungkin saat itu orangtuaku cukup tersentak mendengar keinginanku  itu. Betapa tidak, bulan-bulan itu merupkan bulan yang sangat krusial bagi keluarga kami (meskipun pada bulan-buan yang lain tidak terlalu jauh berbeda). Membayar uang Ujian Nasional, transportasiku pulang-pergi dari Jawa-Sumatra, biaya sekolah adikku di Bogor, juga biaya hidup sehari-hari mulai dari mengisi lambung sendiri sampai dengan lambungnya sepeda motor yang dipakai usaha. Tak ketinggalan handphone pun harus diberi makanan yang bernama pulsa, sekilas nampak kurang penting, namun sangat urgen sekali guna memperlancar komunikasi. Hufth, mengherankan! Uang memang bukan segala-galanya, tapi nyatanya segala sesutu harus pakai uang.

Bukan pejuang namanya jika mudah menyerah, aku tetap mengutarakan keinginanku kepada kedua orangtuaku sembari berkata, ’’Abi,aku punya sedikit tabungan untuk berangkat kesana. Seketika itu ummiku menyahut, ’’emangnya cukup uang tabunganmu buat kursus disana, nak? Kalau kurang gimana? Perlahan-lahan semangatku pun mulai goyah, rasanya pupus sudah harapanku untuk menginjakan kaki ke Kampung Inggris. Setelah tertegun beberapa waktu akhirnya dengan mantap aku sampaikan kepada kedua orangtuaku bahwa aku akan tetap berangkat ke Pare, seandainya jika uang yang kumiliki ini kurang, maka disana aku masih memiliki zat yang bisa kumintai pertolongan yakni Allah SWT. Ya, aku masih punya Allah disana. Bukankah Allah yang ada di Sumatra sama dengan Allah yang ada di Pare? Dengan bermodalkan keyakinan yang disertai restu dari orang tua akhirnya aku tetapkan langkah menuju Kampung Inggris.

Akhir Juni 2012 aku mulai meluncur menuju sekolahku di Jawa Barat. Setibanya disana akhirnya cobaan datang lagi, rekan-rekanku yang di awal perencanaan berjumlah 9 orang ternyata banyak yang batal berangkat, yang tersisa hanya 3 orang saja. Itu pun harus menunggu sampai satu minggu kemudian. Dengan perasaan sedikit kecewa akhirnya aku menunggu rekanku hingga satu minggu. Pada akhirnya waktu yang dinantikan pun tiba, tanggal 7 Juli 2012 aku kembali menanyakan prihal keberangkatan kami. Tapi sayang seribu sayang, kembali aku harus menelan pil kekecewaan, satu diantara  dua orang rekanku batal berangkat bersama ke Pare dikarenakan satu alasan yang memang layak untuk ditolerir. Tinggalah dua orang yang akhirnya tetap berangkat ke Kampung Inggris Pare-Kediri.

8 juli 2012 kami berangkat dari stasiun Pasar Senen menuju stasiun Kediri dengan menggunakan kereta Senja Singosari. 9 Juli 2012 sampailah kami di stasiun Kediri, dan langsung melanjutkan perjalanan menuju Desa Tulungrejo, Pare-Kediri dengan menggunakan angkutan bermerk P.

Perjalanan pun tidak semulus yang diinginkan, karena kepolosan wajah kami akhirnya kami diturunkan di Tugu Garuda, yang artinya tujuan kami masih belum sampai pada tempat yang dituju. Akhirnya kami harus melanjutkan perjalanan kami dengan berjalan kaki, untuk orang yang membawa koper cukup besar perjalanan dari Tugu Garuda menuju Tulungrejo cukup membuat keringat bercucuran. Untungnya saya sudah mempunyai seorang kenalan disana, meskipun belum pernah bertemu secara langsung, tapi nomor handphone yang saya miliki sudah lebih dari cukup.

.  .  .  ( Bersambung…!! )

Comments

comments